Sabtu, 18 Mei 2019
Kamis, 25 Agustus 2016
Surat Terbuka untuk Sonia
Sonia,
Sambil
menatap langit, aku menulis ini
Kata
mereka, seteguk minuman dapat membuatku melupakannya.
Namun,
walaupun telah ratusan teguk, bayangmu masih ada dalam benakku
Sonia,
Ingatkah
kau akan hari itu
Saat kau memanggil
namaku disertai senyuman
Dan aku
membalasnya dengan senyum simpul
Saat kita korbankan
segalanya demi sebuah senyum
Saat kita
bicara tentang sajak dan prosa yang kita rangkai
Ku tahu kau
tak lupa
Sonia,
Hari itu
kau bicara tentang lelaki yang kau suka, hatiku berdesir
Kesempatanku
terkikis
Apakah kau
belum mengerti, Sonia?
Puluhan
bintang ku berikan padamu agar kau tersenyum
Kuperbaiki
hatimu yang gundah
Kudengar
semua dongengmu
Apakah itu
belum cukup?
Sonia,
Aku memang
tak sekontroversial Ahok, dan tak setampan Rio Haryanto
Namun, aku
bisa mendampingimu ke surga
Ketahuilah,
aku laksana mentari yang menghangatkan pagi dan pijarnya melebihi cahaya yang
kau lihat
Sonia,
Kau tahu siapa
lelaki di balik boneka kucing besar yang tiba-tiba datang di pestamu
Ah, kuterka
kau salah sonia, akulah malaikatnya
Kau tau
sonia,
Dibelakang
telah kusiapkan pesta mewah pada malam istimewamu
Juga ku
hadiahkan sepenggal surga atas nama pulau dewata
Namun, sia
sia saja Sonia.
Sonia,
Kulakukan
semua hanya untukmu
Ku tau, kau
marah padaku.
Ku tau, kau
tak paham
Kepedulian
yang kaukira ku abaikan
Oh sumpah,
aku hanya berpura-pura
Kala itu
aku belum siap untuk dicintai
Aku
hanyalah anak hilang yang belum siap untuk ditemukan
Sonia,
Kisah kita
memang harus usai
Ku akhiri semua, ku Ikhlaskan kau
bersamanya.
Doaku, bahagiamu menjadi bahagiaku,
Sonia
Rasa initenggelam,
tenggelam seperti EgyptAir
Kau
membuatnya mencintaimu, pikiran dan keinginanmu memang tak akan pergi dari dia
Ruko yang
kau sewa dimana lukisan dan puisimu kau jajarkan disana
Kurasa
takkan lama, mengetahui semua karyamu tidak laku
Dan tentu
saja aku tidak akan membantumu
Sonia,
Kutulis
semua ini dengan luka, semoga kau lekas bertanya.
Bekasi, 5
Juni 2016
Rizki yang
telah berhenti berharap
Sabtu, 31 Oktober 2015
Gabolisma 2015
Dari bulan September hingga Oktober. SMAN 1 Bekasi mengadakan
turnamen olahraga volley bernama “Gabolisma” yang diikuti oleh semua kelas di
SMAN 1 Bekasi. Turnamen ini adalah salah satu turnamen yang dapat diikuti oleh anak
kelas akselerasi. Olahraga ini terdiri dari beberapa babak, yaitu babak
penyisihan sampai dengan final.
Selasa, 17 Maret 2015
Jangan Salah Tentang Buku Harian
Sebagaimana
yang kita ketahui, buku harian atau Diary
adalah catatan kejadian yang kita alami sehari—hari. Biasanya diary ini ditulis
oleh cewek. Kalau ada cowok yang menulis diary, biasanya dia mendapat julukan “Cowok
Letoy” atau “Banci”. Padahal, faktanya orang jenius seperti Albert Einstein
juga menulis menulis buku harian. Catharine M. Cox, seorang penulis buku,
pernah mempelajari kebiasaan 300 orang jenius – seperti isaac Newton, Einstein,
dan Thomas Jefferson – dan menemukan bahwa semua orang jenius tersebut
merupakan penulis buku harian yang rajin. Karena menulis buku harian dapat
mengasah IQ (Intelligence Quotient).
Kamis, 19 Februari 2015
Teori Hantu (Part 1)
|
K
|
eberadaan hantu diyakini oleh masyarakat di hampir seluruh
negara di dunia, pada setiap waktu dan tahap evolusi. Ke mana pun kita pergi,
hantu selalu menguntit melalui halaman sejarah, bahkan masa kini yang cenderung
sinis dan materialistik.
Pernyataan
bahwa orang yang berpikir rasional tidak akan percaya kepada hantu adalah omong
kosong. Karena pada kenyataannya, ribuan orang rasional malah percaya hantu.
Mengapa mereka percaya? Apakah mereka akan tetap percaya meskipun tidak punya
alasan untuk percaya?
Banyak
orang takut akan kegelapan. Kita semua juga pernah mengalami “teror kegelapan”,
dan setiap anak kecil pasti menderita karena hal ini. Makanya banyak anak yang
takut gelap. Selama tahun-tahun awal hidup kita, teror ini hampir sama dengan
ketakutan terhadap beberapa jenis hewan dan bahkan serangga. Bukankah ini
menandakan sesuatu?
Mereka
yang fokus kepada pertanyaan ini percaya bahwa dalam setiap kebenaran ada
realita mengerikan yang membenarkan ketakutan naluriah ini, bahwa hal-hal yang
jahat dan mengerikan mengintai dalam diam, ada sesuatu yang aneh pada jam
malam, dan bahwa benar ada “kekuatan”
lain yang terkandung dalam benda-benda yang sering kita mainkan.
Kita
sering kali tidak mengetahui atau menyadari bahwa ada bahaya mengerikan dalam
aktivitas kita sehari-hari yang bisa merusak keseimbangan dunia gaib. Ya, ada
“tirani gelap” berupa fenomena dan manifestasi hantu yang berlangsung dalam
kegelapan dan tidak akan pernah terjadi di bawah siraman cahaya. Semua fenomena
hantu berhubungan dengan kegelapan dan bahkan ketika kita bangun untuk buang
air kecil/sekedar minum.
Semua
ini dicontohkan dalam beberapa narasi menarik berikut.
Teror Kegelapan
“Saya takut gelap”. Mungkin kita
sering mendengar kata itu, dan kita anggap orang itu “cupu”. Namun, bukankah
kita sepantasnya takut terhadap sesuatu? Dan, dan bukankah hewan, bahkan
serangga pun, takut gelap, sehingga kita tidak bisa memaksa mereka masuk ke
tempat gelap jika mereka tidak mau!
Cahaya
tidak hanya memungkinkan kita untuk melihat apa yang ada di sekitar kita, tetapi
juga menjadi energi positif atas segala “kuasa kegelapan”, dan mencegah efek
yang dapat ditimbulkan kegelapan.
Segala
macam arwah akan memberitahu kita bahwa manifestasi karakter mereka tidak bisa
terlihat saat terang. Sebaliknya, cahaya justru akan mencegah terjadinya
penampakan mereka. Jadi, bukankah ada alasan yang cukup untuk takut gelap?
Namun
ada suatu cerita yang sangat mengerikan dari salah satu orang yang takut gelap.
Karena kejadian inilah dia takut gelap.
“Beberapa
tahun yang lalu, kejadiannya di sebuah rumah tua, yang kami sewa pada waktu
itu. Saya segera menghentikan sewanya setelah kejadian tersebut.
“Saat
itu saya memang sudah takut gelap, sehingga saya selalu membiarkan lampu lilin
di sisi tempat tidur menyala setiap saya tidur. Pada suatu malam, saya
terbangun, karena saya merasakan tempat tidur saya bergetar dengan aneh. Saat
itu kejadiannya hampir tidak masuk akal.
“Saya
melihat seorang laki-laki muda berdiri di samping tempat tidur saya, berpakaian
compang-camping, dan wajahnya pucat mengerikan. Dia menatap saya dengan sangat
tajam.”
“Saya
tidak akan pernah perasaan shock yang saya alami ketika melihat makhluk itu.
Bukan hanya karena penampilannya yang tak terduga, tetapi karena saya bisa
melihat dinding dan perabot kamar di belakangnya melalui tubuhnya yang tembus
pandang,”
“Saya
langsung tahu bahwa saat itu saya sedang melihat hantu, dan darah saya langsung
terasa dingin. Ketakutan sepanjang hidup saya itu akhirnya terjadi!”
“Kemudian
saya berpikir bahwa saya cukup bersyukur karena ada cahaya lampu di kamar. Apa
yang harus saya lakukan jika saya berada dalam kegelapan.
“Seolah-olah
makhluk itu membaca pikiran saya dan berniat menyiksa saya hingga batas daya
tahan diri saya, dia membungkuk, dan sesaat kemudian cahaya lilin di kamar saya
padam! Saya sendirian dalam kegelapan bersama hantu tersebut.”
“Kata-kata
tidak bisa menggambarkan perasaan saya pada saat itu. Darah saya membeku dan
lidah saya menempel kaku di langit-langit mulut. Saya mencoba berbicara, tetapi
tidak bisa. Saya hanya bisa mengulurkan satu tangan, seperti ingin menangkal
kehadiran mengerikan itu dn mengusirnya
pergi.”
“Detik
berikutnya, saya merasakan seprai ditarik dan ujung tempat tidur hingga sedikit
terlepas. Kasur terasa ditekan, dan saya langsung tahu bahwa tamu menakutkan
itu merangkak ke tempat tidur! Dia akan berbaring di sisi saya dan mungkin akan
menyentuh saya, siapa yang tahu? Pikiran saya menderita selama beberapa saat
dan saya tidak akan pernah lupa! Saya hanya heran mengapa pikiran menakutkan
itu tidak bisa pergi?”
“Kemudian
ada sesuatu yang aneh terjadi. Bahkan dalam keadaan seperti itu, saya bisa
melihat tempat tidur saya perlahan-lahan kembali ke posisi normal. Berat di
atasnya semakin berkurang. Akhirnya, posisi kasur kembali semula, dan saya
merasakan seprai tempat tidur kembali ke posisi semula. Hantu itu telah pergi!”
“Selama
berjam-jam saya berbaring terjaga, tidak berani bergerak. Setelah waktu terasa
seperti berabad-abad, samar-samar cahaya pertama jatuh di sebelah ruangan,
menyambut datangnya pagi. Akhirnya matahari pun terbit. Cahaya memang sungguh
mulia!Kegelapan hanya dipenuhi kebencian. “
Namun,
untungnya, sisi jahat dan mengerikan hantu tidak universal.
Hantu
tidak selalu menampakkan diri sebagai sosok yang tangguh dan mengerikan! Beberapa
di antaranya justru terbukti hanya ingin membantu, ada yang hanya ingin
membenarkan sesuatu yang salah, bahkan ada juga yang tampak memiliki rasa
humor! Jadi, ada berbagai macam hantu, seperti ada berbagai jenis orang di dunia
ini.
Rabu, 18 Februari 2015
6:01
Apakah kamu sudah dengar cerita tentang
SMP 6:01?
SMP 6:01? Memangnya ada, SMP dengan nama
seperti itu di kota kita?
Yang
aku tahu namanya bukan SMP 6:01,sih. Namun katanya kejadian aneh terjadi tepat
setiap pukul 6:01 malam.
Kejadian aneh? Kejadian aneh apa maksudmu?
Kamu
belum dengar? Aku sih sudah.
Aku belum. Ceritain dong. Penasaran nih.
Ok, jadi kabarnya di SMP
6:01 itu.....
***
Kedip di layar hp ku akhirnya berhenti
juga. Kulirik halaman teras kelas ujung, menunggu manusia-manusia disana berdiri.
Dengan wajah kelelahan mereka bersiap-siap untuk pulang. Kasihan, wajah manis
mereka tampak lesu.
“Udah
selesai semua nih?” Aku mengambil kunci pagar sekolah dari kantongku.
Salah
satu dari mereka mengangguk. Berani taruhan, besok pasti tugasnya dikumpulkan.
Mereka pasti baru menyelesaikannya sampai jam segini.
“Semoga
hasilnya maksimal dan nilainya juga maksimal.” Aku berusaha menyemangati
mereka.
Tak menggubris ucapanku,mereka
hanya menoleh lemah, seolah tenaga kehidupannya sudah tersedot habis dari tadi.
Setelah mereka semua keluar pagar
sekolah, aku segera mengunci pagar dan bersiap-siap untuk pulang. Pukul 5:51.
Entah kenapa, perasaanku selalu tidak enak di sekolah pada jam-jam segini. Ada
rasa yang aneh. Setiap sore, aku memang selalu menutup pagar sesegera mungkin
sebelum pukul 5:30. Namun, berhubung tadi ada keadaan darurat ̶
siswa-siswi yang memelas karena harus mengerjakan tugas, aku memustuskan
menunggunya.
Kulirik ke belakang. Pagar dalam
juda sudah ku kunci. Sekolha yang tampak sangat sepi. Kesepian yang semakin
mencekam.
Kulirik jam tanganku. 6:00.
Malam. Cukup gelap. Baiklah, setelah ini aku langsung ke rumah. Nonton tv,
makan, tidur, dan heii..., itu kan.....
***
Seorang
murid perempuan muncul di belakang pagar. Aneh, aku tidak tahu bagaimana
dia masuk. Aku sangat yakin, kuingat-ingat, tadi sudah tidak ada orang di
sekolah setelah anak-anak tadi. Kulirik jam tangan ku. 6:01. Aneh. Kok bisa ada
perempuan di situ.
Kuputuskan untuk membuka kunci
pagar dalam dan menegurnya.
Namun....
Apa itu....
Dia....
HAH?!
“Woi, bengong lo?”
Jeda sejenak
“Woi, bangun. Kerasukan lo?
Bengong mulu!”
Aku terperanjat. Teman penjaga
sekolah yang ada di depanku menatapku bingung. Perlu dua detik bagiku untuk
menyadari bahwa aku tadi bermimpi. Kuruap wajahku, menarik nafas menenangkan
diri.
“Lu gapapa?”
“Oh, iya. Gapapa kok, cuy.”gugup,
aku menjawab. Temanku itu tampak sedikit khawatir. Mungkin cukup lama dia
berusaha untuk membangunkanku. Lalu dia mengucapkan salam perpisahan dan
meninggalkan sekolah.
Kulirik jam tanganku lagi. 6:01
pagi, bukan pukul 6:01 malam. Kulihat sekitar halaman sekolah. Mengingat mimpi
yang sama, yang sudah satu bulam ini terus mendatangiku. Selalu Berulang-ulang.
Terus-menerus seperti menjelajahi galaxi, perempuan yang sama, waktu yang sama,
tempat yang sama, dan... Sial! Ya,
tuhan, itu kan.....
***
PUKUL 12:01 siang. Sekolah.
Kantin
“Kamu kenapa, Ris? Kok pucat?”
Kuruapkan wajahku. Lalu, kutoleh
Ali, teman OB di sekolah. “Gak, kok. Enggak papa. Kecapean kali aku.”
“Gara-gara kemaren, nungguin
bocah?”
“Mungkin.” Ingin kuceritakan
tentang mimpiku selama ini kepada Ali.
“Ris, nanti kamu jaga sekolah,
ya! Honornya nambah deh!” Kata wakil kepala sekolah yang tiba-tiba datang
dibelakangku.
“Hehe, Iya pak, santai aja....”
“Ya udah, saya pergi dulu ya” Pak
wakil kepala sekolah meninggalkan kami berdua.
“Kerja tabahan neh.”
“Iya. Lumayan lah buat
nambah-nambah. Duluan ya li!” Aku jalan menjauhi kantin tanpa tahu apa yang
salah selama ini.
***
PUKUL 05.31.Sore.
Aku mulai menyesal kenapa aku
mengiyakan untuk menjaga sekolah, kenapa? Karena aku sendiri, mending kalau
bareng si Ali, atau sama yang lainnya.
Kulirik ke lingkungan sekolah.
Tentu saja sangat sepi. Hanya terdengar suara kendaraan dari luar. Sangat
membosankan.
Kuuapkan embusan napas dengan
menguap lebar. Kantuk membuat pikiranku tak lancar. Ditambah suasana sepi.
Andaikan disini ada Ali, waktu pasti akan berjalan dengan seru.
Tuk.....
Hah? Suara apaan tuh?
Kubuka mataku lebar-lebar. Suara
ketukan besi. Kontras dengan sepi yang mencekik. Suara dari mana tuh?
Tuk...tuk...
Kudengarkan baik-baik
Tuk...tuk....tuk...
Suara itu makin keras terdengar.
Aku pun penasaran. Kulangkahkan kakiku menyusuri lorong. Apakah hanya
perasaanku saja atau bagaimana ini?
Tuk...tuk....
Tuk..tuk...
Aku sampai pada pagar dalam
sekolah. Jantungku berdetak dengan cepat. Dejavu!
Aku membatin pelan. Pagar.... posisi itu.... Seperti dalam mimpiku. Hanya saja
tidak ada sosok itu lagi disana. Aku sangat bersyukur karena tidak bertemu lagi
dengannya. Namun rasa penasaranku membuatku ingin memeriksanya sekeliling.
Pelan...
Pelan...
Pe.....
TRILIIIIIIIIIT!!!
Aku terperanjat. Kurogoh handphone di celanaku yang berbunyi,
mengagetkanku.
“Ris, cepetan pulang!”
“Halo? Siapa ini? Ali?”
“Iya, Ali. Atap rumahlu bocor, Ris.”
“Hah? Kenapa? Halo?”
“ATAP RUMAH LO BOCOR!”
“ Ya ampun!! Beneran??”
“iya. Kamu nggak pulang sih dari
tadi. Makanya ga ketahusn. Udah, cepet pulang!”
“Gua kan jaga sekolah!”
“Dah bilang aja ke wakepsek, izin
atap bocor! Susah amat!”
Tergesa, aku pun segera menelepon
wakepsep dan dia bilang tidak apa-apa. Segera meninggalkan sekolah. Kulirik jam
tanganku. Pukul 06:00 malam. Tepat
Lalu kudengar suara detik jam.
Pukul 06:01.
***
Pukul 04:01. Ketika semua murid telah pulang.
Ya, perasaanku sangat sedih. Air
menggenang dikarenakan hujan kemarin yang deras mengguyur. Masalahnya, bakal
tidur dimana aku malam ini?
Ali jauh lebih beruntung.
Rumahnya juga terendam air, tapi dia punya saudara di kota ini. Untuk
sementara, dia bisa tidur disana.
“Kamu kenapa, Ris?” Pak wakil
kepala sekolah bertanya kepadaku.
“Saya malam ini bakal nginap
disini deh. Atap rumah saya bocor, pak.”
Pak wakil kepala sekolah tampak
menimbang-nimbang. “Kamu yakin?” Ia bertanya.
Aku mengangguk mantap.
***
PUKUL 05:55. Saatnya menutup
pagar. Sudah pasti sekolah sepi. Kukunci pagar dalam dan pagar luar. Kulirik
jam tanganku. Pukul 06.01
Tiba-tiba
semua lampu mati. Sial!! Kok, malah
mati listrik? Sialaaaan. Nggak banget nih listrik. Lingkungan sekitar juga
menjadi sangat gelap.
Ku
gunakan cahaya dari hp untuk menuntutku berjalan. Hei tunggu dulu. Apa itu?
Cahaya hpku ku hentikan di pagar dalam. Kok, bisa ada seseorang di situ?
Perempuan? Malam-malam begini?
“Eh.
Kok kamu belum pulang?” Aku berusaha berucap sopan. Heran juga sih. Seingatku,
pagar kan, sudah kukunci. Kenapa bisa dia masuk?
Perempuan
itu hanya menatapku sayu. Pasti dia akan pulang, karena untuk apa dia disini.
Tetapi....
loh, kok?
“Ngapain
..... kamu belum..... ?” Belum sempat aku selesaikan kalimatku, perempuan itu
justru melewatiku.
“Neng,
ini....” Aku mengikutinya dari belakang, namun ntah kenapa dia seperti hilang
dalam gelap.
Tiba-tiba
suara seperti pintu tertutup kencang terdengar. Sontak aku kaget berlari.
Handphoneku terjatuh.
Setelah
kudapatkan hpku, aku melihat sesuatu.
Di depanku....
Seseorang...
Seorang...perempuan
Aku
menelan ludah
Dia..... tersenyum
Mendadak jantungku berdegup
kencang seperti berlari marathon 25 km.
Sampai
kemudian ku sadari.... dia tidak mempunyai bola mata.
***
Tentang
SMP 6:01 itu ada dimana??
Nggak ada yang tahu, sih,
nama sebenarnya dari SMP itu, walaupun dengan lokasi aslinya.
Hah? Beneran?
Ho-oh
Jadi...?
Yah, hati-hati saja kalau
kita sedang kerja kelompok di sekolah. Jangan sampai malam. Apalagi kalau
ngobrol ga jelas. Kan kita nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita tetap
disana sampai pukul 06:01.Eng... kalau
gitu, bukannya kita harus cabut, ya?
Maksudmu?
Sudah
pukul 6:00
***
(Terinspirasi dari cerita "12:31" karya Ahmad Azeri Chandra Bhuana)
Selasa, 17 Februari 2015
Bumi Semakin Panas
PEMANASAN GLOBAL itu urusan semua
makhluk bumi, bukan hanya cerita yang datang dari negeri jauh soal asap
pabrik-pabrik besar, es mencair, beruang kutub yang nyaris kehilangan habitat,
atau lahan pertanian yang mengering di Afrika. Makanan, pilihan kendaraan,
rumah, hingga sampah yang kita buang, ikut berperan besar dalam perubahan iklim
di bumi. Kita berperan besar dalam memanaskan Bumi, tetapi kita jjuga bisa
menjadi bagian dari solusinya.
Jika
pemanasan global terus “ditidakpedulikan”, banyak daratan akan terendam air
(atau tenggelam). Sebagiannya adalah pulau-pulau negeri tercinta kita ini,
barangkali juga termasuk pulau yang kita tinggali saat ini. Katanya, seluruh es
kutub akan mencair dalam 30 tahun mendatang; tentu saja itu tak hanya memusnahkan
beruang kutub dan makhluk kutub lainnya, namun juga akan menaikkan permukaan
laut.
Terhadap ancaman itu, banyak orang
masih berpikir: “Toh terjadinya masih lama ini.” Tetapi, dampak pemanasan
global sebenarnya telah datang mengunjungi rumah kita. Tandanya sudah kita rasakan,
misalnya musim yang tidak karuan, termasuk musim kemarau atau musim hujan yang
terlalu panjang. Banjir di satu tempat, kekeringan di tempat lain pada saat
sama. Badai dan bencana lan terkait dengan iklim, makin kerap terjadi.
Menurut catatan Bakornas PB,
kejadian-kejadian bencana terkait iklim sejak tahun 1950-1960-an telah
meningkat 4 kali lipat. Misalnya tahun 2003-2005 saja, telah terjadi sekitar
1420 bencana di Indonesia. Sekitar 53,3 persen di antaranya berkaitan dengan
iklim dan hidrologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan angin topan.
Kekacauan iklim dan cuaca juga telah
berdampak pada penurunan kemampuan petani untuk menyediakan pangan. Ancaman
gagal panen makin meningkat. Bahaya kelaparan pun mengintai. Perubahan iklim
melanda selurh penjuru bumi, tapi negara-negara miskin;ah yang akan merasakan
dampak terburuk.
Pada
2020, diperkirakan 75 hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber
air, sedangkan penduduk kota-kota besar di Asia beresiko dilanda banjir.
Bagaimana dengan Eropa dan Amerika? Di Eropa, sebagian besar spesies akan punah
karena perubahan iklim. Sementara di Amerika Utara, gelombang hawa panas
terjadi makin lama dan menyengat sehingga akan memicu perebutan sumber air.
Kondisi cuaca ekstrim akan menjadi hal yang lumrah.
Badai tropis akan lebih sering
terjadi dan semakin destruktif. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan
penyebaran penyakit meningkat. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih
luas, mengasinkan air tanah, dan menggerus kawasan pesisir.
Di Indonesia, kenaikan muka air laut
telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, mengubah arus laut,
memperluas kerusakan hutan bakau, meluasnya intrusi aor laut ke daratan, dan
berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya banjir
disebabkan karena pola hujan yang membingungkan, musim hujan yang pendek
sementara curah hujan sangat tinggi. Iklim menjadi ekstrem dan sulit
diperkirakan lagi.
Daerah yang paling terkena dampak
pemanasan global adalah pesisir. Luas hutan bakau terus menurun dari 5.209.543
ha (pada 1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga
2.496.185 ha pada 1993. Apabila keberadaan bakau tidak dapat dipertahankan
lagi, maka abrasi pantai akan semakin kerap terjadi karena tidak adanya penahan
gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat, karena
tidak adanya filter polutan dan zona budidaya ikan pun terancam. Wilayah
kedaulatan negara kita pun berkurang akibat mundurnya garis pantai.
Semua
kejadian ini memperjelas bahwa ancaman dampak pemanasan global bukan lagi
sesuatu yang jauh, tetapi sudah sangat dekta dengan rumah kita.
Untuk
penyeimbang semua hal diatas, kita ada baiknya ikutan turun tangan dalam urusan
penghijauan. Mau ikut “dinginkan” suhu panas bumi, bersama menahan lajunya
global warming? Sebaiknya kita ikut warming up dan berbenah kepribadian agar
lebih hirau terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, RT/RW, kelurahan,
kecamatan, kota, provinsi, negara dan bangsa kita, demi masa depan Bumi ini dan
kita. J
Langganan:
Postingan (Atom)



