Selasa, 17 Februari 2015

Bumi Semakin Panas

            PEMANASAN GLOBAL itu urusan semua makhluk bumi, bukan hanya cerita yang datang dari negeri jauh soal asap pabrik-pabrik besar, es mencair, beruang kutub yang nyaris kehilangan habitat, atau lahan pertanian yang mengering di Afrika. Makanan, pilihan kendaraan, rumah, hingga sampah yang kita buang, ikut berperan besar dalam perubahan iklim di bumi. Kita berperan besar dalam memanaskan Bumi, tetapi kita jjuga bisa menjadi bagian dari solusinya.
            Jika pemanasan global terus “ditidakpedulikan”, banyak daratan akan terendam air (atau tenggelam). Sebagiannya adalah pulau-pulau negeri tercinta kita ini, barangkali juga termasuk pulau yang kita tinggali saat ini. Katanya, seluruh es kutub akan mencair dalam 30 tahun mendatang; tentu saja itu tak hanya memusnahkan beruang kutub dan makhluk kutub lainnya, namun juga akan menaikkan permukaan laut.
            Terhadap ancaman itu, banyak orang masih berpikir: “Toh terjadinya masih lama ini.” Tetapi, dampak pemanasan global sebenarnya telah datang mengunjungi rumah kita. Tandanya sudah kita rasakan, misalnya musim yang tidak karuan, termasuk musim kemarau atau musim hujan yang terlalu panjang. Banjir di satu tempat, kekeringan di tempat lain pada saat sama. Badai dan bencana lan terkait dengan iklim, makin kerap terjadi.
            Menurut catatan Bakornas PB, kejadian-kejadian bencana terkait iklim sejak tahun 1950-1960-an telah meningkat 4 kali lipat. Misalnya tahun 2003-2005 saja, telah terjadi sekitar 1420 bencana di Indonesia. Sekitar 53,3 persen di antaranya berkaitan dengan iklim dan hidrologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan angin topan.
            Kekacauan iklim dan cuaca juga telah berdampak pada penurunan kemampuan petani untuk menyediakan pangan. Ancaman gagal panen makin meningkat. Bahaya kelaparan pun mengintai. Perubahan iklim melanda selurh penjuru bumi, tapi negara-negara miskin;ah yang akan merasakan dampak terburuk.
            Pada 2020, diperkirakan 75 hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, sedangkan penduduk kota-kota besar di Asia beresiko dilanda banjir. Bagaimana dengan Eropa dan Amerika? Di Eropa, sebagian besar spesies akan punah karena perubahan iklim. Sementara di Amerika Utara, gelombang hawa panas terjadi makin lama dan menyengat sehingga akan memicu perebutan sumber air. Kondisi cuaca ekstrim akan menjadi hal yang lumrah.

            Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin destruktif. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tanah, dan menggerus kawasan pesisir.
            Di Indonesia, kenaikan muka air laut telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, mengubah arus laut, memperluas kerusakan hutan bakau, meluasnya intrusi aor laut ke daratan, dan berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya banjir disebabkan karena pola hujan yang membingungkan, musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi. Iklim menjadi ekstrem dan sulit diperkirakan lagi.
            Daerah yang paling terkena dampak pemanasan global adalah pesisir. Luas hutan bakau terus menurun dari 5.209.543 ha (pada 1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha pada 1993. Apabila keberadaan bakau tidak dapat dipertahankan lagi, maka abrasi pantai akan semakin kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat, karena tidak adanya filter polutan dan zona budidaya ikan pun terancam. Wilayah kedaulatan negara kita pun berkurang akibat mundurnya garis pantai.
            Semua kejadian ini memperjelas bahwa ancaman dampak pemanasan global bukan lagi sesuatu yang jauh, tetapi sudah sangat dekta dengan rumah kita.

            Untuk penyeimbang semua hal diatas, kita ada baiknya ikutan turun tangan dalam urusan penghijauan. Mau ikut “dinginkan” suhu panas bumi, bersama menahan lajunya global warming? Sebaiknya kita ikut warming up dan berbenah kepribadian agar lebih hirau terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, negara dan bangsa kita, demi masa depan Bumi ini dan kita. J

Rizki Putra

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.