Bumi Semakin Panas
PEMANASAN GLOBAL itu urusan semua
makhluk bumi, bukan hanya cerita yang datang dari negeri jauh soal asap
pabrik-pabrik besar, es mencair, beruang kutub yang nyaris kehilangan habitat,
atau lahan pertanian yang mengering di Afrika. Makanan, pilihan kendaraan,
rumah, hingga sampah yang kita buang, ikut berperan besar dalam perubahan iklim
di bumi. Kita berperan besar dalam memanaskan Bumi, tetapi kita jjuga bisa
menjadi bagian dari solusinya.
Jika
pemanasan global terus “ditidakpedulikan”, banyak daratan akan terendam air
(atau tenggelam). Sebagiannya adalah pulau-pulau negeri tercinta kita ini,
barangkali juga termasuk pulau yang kita tinggali saat ini. Katanya, seluruh es
kutub akan mencair dalam 30 tahun mendatang; tentu saja itu tak hanya memusnahkan
beruang kutub dan makhluk kutub lainnya, namun juga akan menaikkan permukaan
laut.
Terhadap ancaman itu, banyak orang
masih berpikir: “Toh terjadinya masih lama ini.” Tetapi, dampak pemanasan
global sebenarnya telah datang mengunjungi rumah kita. Tandanya sudah kita rasakan,
misalnya musim yang tidak karuan, termasuk musim kemarau atau musim hujan yang
terlalu panjang. Banjir di satu tempat, kekeringan di tempat lain pada saat
sama. Badai dan bencana lan terkait dengan iklim, makin kerap terjadi.
Menurut catatan Bakornas PB,
kejadian-kejadian bencana terkait iklim sejak tahun 1950-1960-an telah
meningkat 4 kali lipat. Misalnya tahun 2003-2005 saja, telah terjadi sekitar
1420 bencana di Indonesia. Sekitar 53,3 persen di antaranya berkaitan dengan
iklim dan hidrologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan angin topan.
Kekacauan iklim dan cuaca juga telah
berdampak pada penurunan kemampuan petani untuk menyediakan pangan. Ancaman
gagal panen makin meningkat. Bahaya kelaparan pun mengintai. Perubahan iklim
melanda selurh penjuru bumi, tapi negara-negara miskin;ah yang akan merasakan
dampak terburuk.
Pada
2020, diperkirakan 75 hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber
air, sedangkan penduduk kota-kota besar di Asia beresiko dilanda banjir.
Bagaimana dengan Eropa dan Amerika? Di Eropa, sebagian besar spesies akan punah
karena perubahan iklim. Sementara di Amerika Utara, gelombang hawa panas
terjadi makin lama dan menyengat sehingga akan memicu perebutan sumber air.
Kondisi cuaca ekstrim akan menjadi hal yang lumrah.
Badai tropis akan lebih sering
terjadi dan semakin destruktif. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan
penyebaran penyakit meningkat. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih
luas, mengasinkan air tanah, dan menggerus kawasan pesisir.
Di Indonesia, kenaikan muka air laut
telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, mengubah arus laut,
memperluas kerusakan hutan bakau, meluasnya intrusi aor laut ke daratan, dan
berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya banjir
disebabkan karena pola hujan yang membingungkan, musim hujan yang pendek
sementara curah hujan sangat tinggi. Iklim menjadi ekstrem dan sulit
diperkirakan lagi.
Daerah yang paling terkena dampak
pemanasan global adalah pesisir. Luas hutan bakau terus menurun dari 5.209.543
ha (pada 1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga
2.496.185 ha pada 1993. Apabila keberadaan bakau tidak dapat dipertahankan
lagi, maka abrasi pantai akan semakin kerap terjadi karena tidak adanya penahan
gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat, karena
tidak adanya filter polutan dan zona budidaya ikan pun terancam. Wilayah
kedaulatan negara kita pun berkurang akibat mundurnya garis pantai.
Semua
kejadian ini memperjelas bahwa ancaman dampak pemanasan global bukan lagi
sesuatu yang jauh, tetapi sudah sangat dekta dengan rumah kita.
Untuk
penyeimbang semua hal diatas, kita ada baiknya ikutan turun tangan dalam urusan
penghijauan. Mau ikut “dinginkan” suhu panas bumi, bersama menahan lajunya
global warming? Sebaiknya kita ikut warming up dan berbenah kepribadian agar
lebih hirau terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, RT/RW, kelurahan,
kecamatan, kota, provinsi, negara dan bangsa kita, demi masa depan Bumi ini dan
kita. J


0 komentar:
Posting Komentar