Apakah kamu sudah dengar cerita tentang
SMP 6:01?
SMP 6:01? Memangnya ada, SMP dengan nama
seperti itu di kota kita?
Yang
aku tahu namanya bukan SMP 6:01,sih. Namun katanya kejadian aneh terjadi tepat
setiap pukul 6:01 malam.
Kejadian aneh? Kejadian aneh apa maksudmu?
Kamu
belum dengar? Aku sih sudah.
Aku belum. Ceritain dong. Penasaran nih.
Ok, jadi kabarnya di SMP
6:01 itu.....
***
Kedip di layar hp ku akhirnya berhenti
juga. Kulirik halaman teras kelas ujung, menunggu manusia-manusia disana berdiri.
Dengan wajah kelelahan mereka bersiap-siap untuk pulang. Kasihan, wajah manis
mereka tampak lesu.
“Udah
selesai semua nih?” Aku mengambil kunci pagar sekolah dari kantongku.
Salah
satu dari mereka mengangguk. Berani taruhan, besok pasti tugasnya dikumpulkan.
Mereka pasti baru menyelesaikannya sampai jam segini.
“Semoga
hasilnya maksimal dan nilainya juga maksimal.” Aku berusaha menyemangati
mereka.
Tak menggubris ucapanku,mereka
hanya menoleh lemah, seolah tenaga kehidupannya sudah tersedot habis dari tadi.
Setelah mereka semua keluar pagar
sekolah, aku segera mengunci pagar dan bersiap-siap untuk pulang. Pukul 5:51.
Entah kenapa, perasaanku selalu tidak enak di sekolah pada jam-jam segini. Ada
rasa yang aneh. Setiap sore, aku memang selalu menutup pagar sesegera mungkin
sebelum pukul 5:30. Namun, berhubung tadi ada keadaan darurat ̶
siswa-siswi yang memelas karena harus mengerjakan tugas, aku memustuskan
menunggunya.
Kulirik ke belakang. Pagar dalam
juda sudah ku kunci. Sekolha yang tampak sangat sepi. Kesepian yang semakin
mencekam.
Kulirik jam tanganku. 6:00.
Malam. Cukup gelap. Baiklah, setelah ini aku langsung ke rumah. Nonton tv,
makan, tidur, dan heii..., itu kan.....
***
Seorang
murid perempuan muncul di belakang pagar. Aneh, aku tidak tahu bagaimana
dia masuk. Aku sangat yakin, kuingat-ingat, tadi sudah tidak ada orang di
sekolah setelah anak-anak tadi. Kulirik jam tangan ku. 6:01. Aneh. Kok bisa ada
perempuan di situ.
Kuputuskan untuk membuka kunci
pagar dalam dan menegurnya.
Namun....
Apa itu....
Dia....
HAH?!
“Woi, bengong lo?”
Jeda sejenak
“Woi, bangun. Kerasukan lo?
Bengong mulu!”
Aku terperanjat. Teman penjaga
sekolah yang ada di depanku menatapku bingung. Perlu dua detik bagiku untuk
menyadari bahwa aku tadi bermimpi. Kuruap wajahku, menarik nafas menenangkan
diri.
“Lu gapapa?”
“Oh, iya. Gapapa kok, cuy.”gugup,
aku menjawab. Temanku itu tampak sedikit khawatir. Mungkin cukup lama dia
berusaha untuk membangunkanku. Lalu dia mengucapkan salam perpisahan dan
meninggalkan sekolah.
Kulirik jam tanganku lagi. 6:01
pagi, bukan pukul 6:01 malam. Kulihat sekitar halaman sekolah. Mengingat mimpi
yang sama, yang sudah satu bulam ini terus mendatangiku. Selalu Berulang-ulang.
Terus-menerus seperti menjelajahi galaxi, perempuan yang sama, waktu yang sama,
tempat yang sama, dan... Sial! Ya,
tuhan, itu kan.....
***
PUKUL 12:01 siang. Sekolah.
Kantin
“Kamu kenapa, Ris? Kok pucat?”
Kuruapkan wajahku. Lalu, kutoleh
Ali, teman OB di sekolah. “Gak, kok. Enggak papa. Kecapean kali aku.”
“Gara-gara kemaren, nungguin
bocah?”
“Mungkin.” Ingin kuceritakan
tentang mimpiku selama ini kepada Ali.
“Ris, nanti kamu jaga sekolah,
ya! Honornya nambah deh!” Kata wakil kepala sekolah yang tiba-tiba datang
dibelakangku.
“Hehe, Iya pak, santai aja....”
“Ya udah, saya pergi dulu ya” Pak
wakil kepala sekolah meninggalkan kami berdua.
“Kerja tabahan neh.”
“Iya. Lumayan lah buat
nambah-nambah. Duluan ya li!” Aku jalan menjauhi kantin tanpa tahu apa yang
salah selama ini.
***
PUKUL 05.31.Sore.
Aku mulai menyesal kenapa aku
mengiyakan untuk menjaga sekolah, kenapa? Karena aku sendiri, mending kalau
bareng si Ali, atau sama yang lainnya.
Kulirik ke lingkungan sekolah.
Tentu saja sangat sepi. Hanya terdengar suara kendaraan dari luar. Sangat
membosankan.
Kuuapkan embusan napas dengan
menguap lebar. Kantuk membuat pikiranku tak lancar. Ditambah suasana sepi.
Andaikan disini ada Ali, waktu pasti akan berjalan dengan seru.
Tuk.....
Hah? Suara apaan tuh?
Kubuka mataku lebar-lebar. Suara
ketukan besi. Kontras dengan sepi yang mencekik. Suara dari mana tuh?
Tuk...tuk...
Kudengarkan baik-baik
Tuk...tuk....tuk...
Suara itu makin keras terdengar.
Aku pun penasaran. Kulangkahkan kakiku menyusuri lorong. Apakah hanya
perasaanku saja atau bagaimana ini?
Tuk...tuk....
Tuk..tuk...
Aku sampai pada pagar dalam
sekolah. Jantungku berdetak dengan cepat. Dejavu!
Aku membatin pelan. Pagar.... posisi itu.... Seperti dalam mimpiku. Hanya saja
tidak ada sosok itu lagi disana. Aku sangat bersyukur karena tidak bertemu lagi
dengannya. Namun rasa penasaranku membuatku ingin memeriksanya sekeliling.
Pelan...
Pelan...
Pe.....
TRILIIIIIIIIIT!!!
Aku terperanjat. Kurogoh handphone di celanaku yang berbunyi,
mengagetkanku.
“Ris, cepetan pulang!”
“Halo? Siapa ini? Ali?”
“Iya, Ali. Atap rumahlu bocor, Ris.”
“Hah? Kenapa? Halo?”
“ATAP RUMAH LO BOCOR!”
“ Ya ampun!! Beneran??”
“iya. Kamu nggak pulang sih dari
tadi. Makanya ga ketahusn. Udah, cepet pulang!”
“Gua kan jaga sekolah!”
“Dah bilang aja ke wakepsek, izin
atap bocor! Susah amat!”
Tergesa, aku pun segera menelepon
wakepsep dan dia bilang tidak apa-apa. Segera meninggalkan sekolah. Kulirik jam
tanganku. Pukul 06:00 malam. Tepat
Lalu kudengar suara detik jam.
Pukul 06:01.
***
Pukul 04:01. Ketika semua murid telah pulang.
Ya, perasaanku sangat sedih. Air
menggenang dikarenakan hujan kemarin yang deras mengguyur. Masalahnya, bakal
tidur dimana aku malam ini?
Ali jauh lebih beruntung.
Rumahnya juga terendam air, tapi dia punya saudara di kota ini. Untuk
sementara, dia bisa tidur disana.
“Kamu kenapa, Ris?” Pak wakil
kepala sekolah bertanya kepadaku.
“Saya malam ini bakal nginap
disini deh. Atap rumah saya bocor, pak.”
Pak wakil kepala sekolah tampak
menimbang-nimbang. “Kamu yakin?” Ia bertanya.
Aku mengangguk mantap.
***
PUKUL 05:55. Saatnya menutup
pagar. Sudah pasti sekolah sepi. Kukunci pagar dalam dan pagar luar. Kulirik
jam tanganku. Pukul 06.01
Tiba-tiba
semua lampu mati. Sial!! Kok, malah
mati listrik? Sialaaaan. Nggak banget nih listrik. Lingkungan sekitar juga
menjadi sangat gelap.
Ku
gunakan cahaya dari hp untuk menuntutku berjalan. Hei tunggu dulu. Apa itu?
Cahaya hpku ku hentikan di pagar dalam. Kok, bisa ada seseorang di situ?
Perempuan? Malam-malam begini?
“Eh.
Kok kamu belum pulang?” Aku berusaha berucap sopan. Heran juga sih. Seingatku,
pagar kan, sudah kukunci. Kenapa bisa dia masuk?
Perempuan
itu hanya menatapku sayu. Pasti dia akan pulang, karena untuk apa dia disini.
Tetapi....
loh, kok?
“Ngapain
..... kamu belum..... ?” Belum sempat aku selesaikan kalimatku, perempuan itu
justru melewatiku.
“Neng,
ini....” Aku mengikutinya dari belakang, namun ntah kenapa dia seperti hilang
dalam gelap.
Tiba-tiba
suara seperti pintu tertutup kencang terdengar. Sontak aku kaget berlari.
Handphoneku terjatuh.
Setelah
kudapatkan hpku, aku melihat sesuatu.
Di depanku....
Seseorang...
Seorang...perempuan
Aku
menelan ludah
Dia..... tersenyum
Mendadak jantungku berdegup
kencang seperti berlari marathon 25 km.
Sampai
kemudian ku sadari.... dia tidak mempunyai bola mata.
***
Tentang
SMP 6:01 itu ada dimana??
Nggak ada yang tahu, sih,
nama sebenarnya dari SMP itu, walaupun dengan lokasi aslinya.
Hah? Beneran?
Ho-oh
Jadi...?
Yah, hati-hati saja kalau
kita sedang kerja kelompok di sekolah. Jangan sampai malam. Apalagi kalau
ngobrol ga jelas. Kan kita nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita tetap
disana sampai pukul 06:01.Eng... kalau
gitu, bukannya kita harus cabut, ya?
Maksudmu?
Sudah
pukul 6:00
***
(Terinspirasi dari cerita "12:31" karya Ahmad Azeri Chandra Bhuana)
0 komentar:
Posting Komentar