Rabu, 18 Februari 2015

6:01

                Apakah kamu sudah dengar cerita tentang SMP 6:01?
                SMP 6:01? Memangnya ada, SMP dengan nama seperti itu di kota kita?
                Yang aku tahu namanya bukan SMP 6:01,sih. Namun katanya kejadian aneh terjadi tepat setiap pukul 6:01 malam.
                Kejadian aneh? Kejadian aneh apa maksudmu?
                Kamu belum dengar? Aku sih sudah.
                Aku belum. Ceritain dong. Penasaran nih.
                Ok, jadi kabarnya di SMP 6:01 itu.....
***
                Kedip di layar hp ku akhirnya berhenti juga. Kulirik halaman teras kelas ujung, menunggu manusia-manusia disana berdiri. Dengan wajah kelelahan mereka bersiap-siap untuk pulang. Kasihan, wajah manis mereka tampak lesu.
                “Udah selesai semua nih?” Aku mengambil kunci pagar sekolah dari kantongku.
                Salah satu dari mereka mengangguk. Berani taruhan, besok pasti tugasnya dikumpulkan. Mereka pasti baru menyelesaikannya sampai jam segini.
                “Semoga hasilnya maksimal dan nilainya juga maksimal.” Aku berusaha menyemangati mereka.
Tak menggubris ucapanku,mereka hanya menoleh lemah, seolah tenaga kehidupannya sudah tersedot habis dari tadi.
Setelah mereka semua keluar pagar sekolah, aku segera mengunci pagar dan bersiap-siap untuk pulang. Pukul 5:51. Entah kenapa, perasaanku selalu tidak enak di sekolah pada jam-jam segini. Ada rasa yang aneh. Setiap sore, aku memang selalu menutup pagar sesegera mungkin sebelum pukul 5:30. Namun, berhubung tadi ada keadaan darurat  ̶  siswa-siswi yang memelas karena harus mengerjakan tugas, aku memustuskan menunggunya.
Kulirik ke belakang. Pagar dalam juda sudah ku kunci. Sekolha yang tampak sangat sepi. Kesepian yang semakin mencekam.
Kulirik jam tanganku. 6:00. Malam. Cukup gelap. Baiklah, setelah ini aku langsung ke rumah. Nonton tv, makan, tidur, dan heii..., itu kan.....
***
 Seorang murid perempuan muncul di belakang pagar. Aneh, aku tidak tahu bagaimana dia masuk. Aku sangat yakin, kuingat-ingat, tadi sudah tidak ada orang di sekolah setelah anak-anak tadi. Kulirik jam tangan ku. 6:01. Aneh. Kok bisa ada perempuan di situ.
Kuputuskan untuk membuka kunci pagar dalam dan menegurnya.
Namun....
Apa itu....
Dia....
HAH?!
“Woi, bengong lo?”
Jeda sejenak
“Woi, bangun. Kerasukan lo? Bengong mulu!”
Aku terperanjat. Teman penjaga sekolah yang ada di depanku menatapku bingung. Perlu dua detik bagiku untuk menyadari bahwa aku tadi bermimpi. Kuruap wajahku, menarik nafas menenangkan diri.
“Lu gapapa?”
“Oh, iya. Gapapa kok, cuy.”gugup, aku menjawab. Temanku itu tampak sedikit khawatir. Mungkin cukup lama dia berusaha untuk membangunkanku. Lalu dia mengucapkan salam perpisahan dan meninggalkan sekolah.
Kulirik jam tanganku lagi. 6:01 pagi, bukan pukul 6:01 malam. Kulihat sekitar halaman sekolah. Mengingat mimpi yang sama, yang sudah satu bulam ini terus mendatangiku. Selalu Berulang-ulang. Terus-menerus seperti menjelajahi galaxi, perempuan yang sama, waktu yang sama, tempat yang sama, dan... Sial! Ya, tuhan, itu kan.....
***
PUKUL 12:01 siang. Sekolah. Kantin
“Kamu kenapa, Ris? Kok pucat?”
Kuruapkan wajahku. Lalu, kutoleh Ali, teman OB di sekolah. “Gak, kok. Enggak papa. Kecapean kali aku.”
“Gara-gara kemaren, nungguin bocah?”
“Mungkin.” Ingin kuceritakan tentang mimpiku selama ini kepada Ali.
“Ris, nanti kamu jaga sekolah, ya! Honornya nambah deh!” Kata wakil kepala sekolah yang tiba-tiba datang dibelakangku.
“Hehe, Iya pak, santai aja....”
“Ya udah, saya pergi dulu ya” Pak wakil kepala sekolah meninggalkan kami berdua.
“Kerja tabahan neh.”
“Iya. Lumayan lah buat nambah-nambah. Duluan ya li!” Aku jalan menjauhi kantin tanpa tahu apa yang salah selama ini.
***
PUKUL 05.31.Sore.
Aku mulai menyesal kenapa aku mengiyakan untuk menjaga sekolah, kenapa? Karena aku sendiri, mending kalau bareng si Ali, atau sama yang lainnya.
Kulirik ke lingkungan sekolah. Tentu saja sangat sepi. Hanya terdengar suara kendaraan dari luar. Sangat membosankan.
Kuuapkan embusan napas dengan menguap lebar. Kantuk membuat pikiranku tak lancar. Ditambah suasana sepi. Andaikan disini ada Ali, waktu pasti akan berjalan dengan seru.
Tuk.....
Hah? Suara apaan tuh?
Kubuka mataku lebar-lebar. Suara ketukan besi. Kontras dengan sepi yang mencekik. Suara dari mana tuh?
Tuk...tuk...
Kudengarkan baik-baik
Tuk...tuk....tuk...
Suara itu makin keras terdengar. Aku pun penasaran. Kulangkahkan kakiku menyusuri lorong. Apakah hanya perasaanku saja atau bagaimana ini?
Tuk...tuk....
Tuk..tuk...
Aku sampai pada pagar dalam sekolah. Jantungku berdetak dengan cepat. Dejavu! Aku membatin pelan. Pagar.... posisi itu.... Seperti dalam mimpiku. Hanya saja tidak ada sosok itu lagi disana. Aku sangat bersyukur karena tidak bertemu lagi dengannya. Namun rasa penasaranku membuatku ingin memeriksanya sekeliling.
Pelan...
Pelan...
Pe.....
TRILIIIIIIIIIT!!!
Aku terperanjat. Kurogoh handphone di celanaku yang berbunyi, mengagetkanku.
“Ris, cepetan pulang!”
“Halo? Siapa ini? Ali?”
“Iya, Ali. Atap rumahlu bocor, Ris.”
“Hah? Kenapa? Halo?”
“ATAP RUMAH LO BOCOR!”
“ Ya ampun!! Beneran??”
“iya. Kamu nggak pulang sih dari tadi. Makanya ga ketahusn. Udah, cepet pulang!”
“Gua kan jaga sekolah!”
“Dah bilang aja ke wakepsek, izin atap bocor! Susah amat!”
Tergesa, aku pun segera menelepon wakepsep dan dia bilang tidak apa-apa. Segera meninggalkan sekolah. Kulirik jam tanganku. Pukul 06:00 malam. Tepat
Lalu kudengar suara detik jam.
Pukul 06:01.
***
Pukul 04:01. Ketika semua murid telah pulang.
Ya, perasaanku sangat sedih. Air menggenang dikarenakan hujan kemarin yang deras mengguyur. Masalahnya, bakal tidur dimana aku malam ini?
Ali jauh lebih beruntung. Rumahnya juga terendam air, tapi dia punya saudara di kota ini. Untuk sementara, dia bisa tidur disana.
“Kamu kenapa, Ris?” Pak wakil kepala sekolah bertanya kepadaku.
“Saya malam ini bakal nginap disini deh. Atap rumah saya bocor, pak.”
Pak wakil kepala sekolah tampak menimbang-nimbang. “Kamu yakin?” Ia bertanya.
Aku mengangguk mantap.
***
                PUKUL 05:55. Saatnya menutup pagar. Sudah pasti sekolah sepi. Kukunci pagar dalam dan pagar luar. Kulirik jam tanganku. Pukul 06.01
                Tiba-tiba semua lampu mati. Sial!! Kok, malah mati listrik? Sialaaaan. Nggak banget nih listrik. Lingkungan sekitar juga menjadi sangat gelap.
                Ku gunakan cahaya dari hp untuk menuntutku berjalan. Hei tunggu dulu. Apa itu? Cahaya hpku ku hentikan di pagar dalam. Kok, bisa ada seseorang di situ? Perempuan? Malam-malam begini?
                “Eh. Kok kamu belum pulang?” Aku berusaha berucap sopan. Heran juga sih. Seingatku, pagar kan, sudah kukunci. Kenapa bisa dia masuk?
                Perempuan itu hanya menatapku sayu. Pasti dia akan pulang, karena untuk apa dia disini.
                Tetapi.... loh, kok?
                “Ngapain ..... kamu belum..... ?” Belum sempat aku selesaikan kalimatku, perempuan itu justru melewatiku.
                “Neng, ini....” Aku mengikutinya dari belakang, namun ntah kenapa dia seperti hilang dalam gelap.
                Tiba-tiba suara seperti pintu tertutup kencang terdengar. Sontak aku kaget berlari. Handphoneku terjatuh.
                Setelah kudapatkan hpku, aku melihat sesuatu.
                Di depanku....
                Seseorang...
                Seorang...perempuan
                Aku menelan ludah
                Dia..... tersenyum
                Mendadak jantungku berdegup kencang seperti berlari marathon 25 km.
                Sampai kemudian ku sadari.... dia tidak mempunyai bola mata.
***
                Tentang SMP 6:01 itu ada dimana??
                Nggak ada yang tahu, sih, nama sebenarnya dari SMP itu, walaupun dengan lokasi aslinya.
                Hah? Beneran?
                Ho-oh
                Jadi...?
                Yah, hati-hati saja kalau kita sedang kerja kelompok di sekolah. Jangan sampai malam. Apalagi kalau ngobrol ga jelas. Kan kita nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita tetap disana sampai pukul 06:01.Eng... kalau gitu, bukannya kita harus cabut, ya?
                Maksudmu?

                Sudah pukul 6:00
***
(Terinspirasi dari cerita "12:31" karya Ahmad Azeri Chandra Bhuana)

Rizki Putra

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.