Kamis, 19 Februari 2015

Teori Hantu (Part 1)

K
eberadaan hantu diyakini oleh masyarakat di hampir seluruh negara di dunia, pada setiap waktu dan tahap evolusi. Ke mana pun kita pergi, hantu selalu menguntit melalui halaman sejarah, bahkan masa kini yang cenderung sinis dan materialistik.
                Pernyataan bahwa orang yang berpikir rasional tidak akan percaya kepada hantu adalah omong kosong. Karena pada kenyataannya, ribuan orang rasional malah percaya hantu. Mengapa mereka percaya? Apakah mereka akan tetap percaya meskipun tidak punya alasan untuk percaya?
                Banyak orang takut akan kegelapan. Kita semua juga pernah mengalami “teror kegelapan”, dan setiap anak kecil pasti menderita karena hal ini. Makanya banyak anak yang takut gelap. Selama tahun-tahun awal hidup kita, teror ini hampir sama dengan ketakutan terhadap beberapa jenis hewan dan bahkan serangga. Bukankah ini menandakan sesuatu?
                Mereka yang fokus kepada pertanyaan ini percaya bahwa dalam setiap kebenaran ada realita mengerikan yang membenarkan ketakutan naluriah ini, bahwa hal-hal yang jahat dan mengerikan mengintai dalam diam, ada sesuatu yang aneh pada jam malam, dan bahwa benar ada  “kekuatan” lain yang terkandung dalam benda-benda yang sering kita mainkan.
                Kita sering kali tidak mengetahui atau menyadari bahwa ada bahaya mengerikan dalam aktivitas kita sehari-hari yang bisa merusak keseimbangan dunia gaib. Ya, ada “tirani gelap” berupa fenomena dan manifestasi hantu yang berlangsung dalam kegelapan dan tidak akan pernah terjadi di bawah siraman cahaya. Semua fenomena hantu berhubungan dengan kegelapan dan bahkan ketika kita bangun untuk buang air kecil/sekedar minum.
                Semua ini dicontohkan dalam beberapa narasi menarik berikut.
Teror Kegelapan
“Saya takut gelap”. Mungkin kita sering mendengar kata itu, dan kita anggap orang itu “cupu”. Namun, bukankah kita sepantasnya takut terhadap sesuatu? Dan, dan bukankah hewan, bahkan serangga pun, takut gelap, sehingga kita tidak bisa memaksa mereka masuk ke tempat gelap jika mereka tidak mau!
     Cahaya tidak hanya memungkinkan kita untuk melihat apa yang ada di sekitar kita, tetapi juga menjadi energi positif atas segala “kuasa kegelapan”, dan mencegah efek yang dapat ditimbulkan kegelapan.
                Segala macam arwah akan memberitahu kita bahwa manifestasi karakter mereka tidak bisa terlihat saat terang. Sebaliknya, cahaya justru akan mencegah terjadinya penampakan mereka. Jadi, bukankah ada alasan yang cukup untuk takut gelap?
                Namun ada suatu cerita yang sangat mengerikan dari salah satu orang yang takut gelap. Karena kejadian inilah dia takut gelap.
                “Beberapa tahun yang lalu, kejadiannya di sebuah rumah tua, yang kami sewa pada waktu itu. Saya segera menghentikan sewanya setelah kejadian tersebut.
                “Saat itu saya memang sudah takut gelap, sehingga saya selalu membiarkan lampu lilin di sisi tempat tidur menyala setiap saya tidur. Pada suatu malam, saya terbangun, karena saya merasakan tempat tidur saya bergetar dengan aneh. Saat itu kejadiannya hampir tidak masuk akal.
                “Saya melihat seorang laki-laki muda berdiri di samping tempat tidur saya, berpakaian compang-camping, dan wajahnya pucat mengerikan. Dia menatap saya dengan sangat tajam.”
                “Saya tidak akan pernah perasaan shock yang saya alami ketika melihat makhluk itu. Bukan hanya karena penampilannya yang tak terduga, tetapi karena saya bisa melihat dinding dan perabot kamar di belakangnya melalui tubuhnya yang tembus pandang,”
                “Saya langsung tahu bahwa saat itu saya sedang melihat hantu, dan darah saya langsung terasa dingin. Ketakutan sepanjang hidup saya itu akhirnya terjadi!”
                “Kemudian saya berpikir bahwa saya cukup bersyukur karena ada cahaya lampu di kamar. Apa yang harus saya lakukan jika saya berada dalam kegelapan.

                “Seolah-olah makhluk itu membaca pikiran saya dan berniat menyiksa saya hingga batas daya tahan diri saya, dia membungkuk, dan sesaat kemudian cahaya lilin di kamar saya padam! Saya sendirian dalam kegelapan bersama hantu tersebut.”
                “Kata-kata tidak bisa menggambarkan perasaan saya pada saat itu. Darah saya membeku dan lidah saya menempel kaku di langit-langit mulut. Saya mencoba berbicara, tetapi tidak bisa. Saya hanya bisa mengulurkan satu tangan, seperti ingin menangkal kehadiran  mengerikan itu dn mengusirnya pergi.”
                “Detik berikutnya, saya merasakan seprai ditarik dan ujung tempat tidur hingga sedikit terlepas. Kasur terasa ditekan, dan saya langsung tahu bahwa tamu menakutkan itu merangkak ke tempat tidur! Dia akan berbaring di sisi saya dan mungkin akan menyentuh saya, siapa yang tahu? Pikiran saya menderita selama beberapa saat dan saya tidak akan pernah lupa! Saya hanya heran mengapa pikiran menakutkan itu tidak bisa pergi?”
                “Kemudian ada sesuatu yang aneh terjadi. Bahkan dalam keadaan seperti itu, saya bisa melihat tempat tidur saya perlahan-lahan kembali ke posisi normal. Berat di atasnya semakin berkurang. Akhirnya, posisi kasur kembali semula, dan saya merasakan seprai tempat tidur kembali ke posisi semula. Hantu itu telah pergi!”
                “Selama berjam-jam saya berbaring terjaga, tidak berani bergerak. Setelah waktu terasa seperti berabad-abad, samar-samar cahaya pertama jatuh di sebelah ruangan, menyambut datangnya pagi. Akhirnya matahari pun terbit. Cahaya memang sungguh mulia!Kegelapan hanya dipenuhi kebencian. “
                Namun, untungnya, sisi jahat dan mengerikan hantu tidak universal.
                Hantu tidak selalu menampakkan diri sebagai sosok yang tangguh dan mengerikan! Beberapa di antaranya justru terbukti hanya ingin membantu, ada yang hanya ingin membenarkan sesuatu yang salah, bahkan ada juga yang tampak memiliki rasa humor! Jadi, ada berbagai macam hantu, seperti ada berbagai jenis orang di dunia ini.  
               

                

Rabu, 18 Februari 2015

6:01

                Apakah kamu sudah dengar cerita tentang SMP 6:01?
                SMP 6:01? Memangnya ada, SMP dengan nama seperti itu di kota kita?
                Yang aku tahu namanya bukan SMP 6:01,sih. Namun katanya kejadian aneh terjadi tepat setiap pukul 6:01 malam.
                Kejadian aneh? Kejadian aneh apa maksudmu?
                Kamu belum dengar? Aku sih sudah.
                Aku belum. Ceritain dong. Penasaran nih.
                Ok, jadi kabarnya di SMP 6:01 itu.....
***
                Kedip di layar hp ku akhirnya berhenti juga. Kulirik halaman teras kelas ujung, menunggu manusia-manusia disana berdiri. Dengan wajah kelelahan mereka bersiap-siap untuk pulang. Kasihan, wajah manis mereka tampak lesu.
                “Udah selesai semua nih?” Aku mengambil kunci pagar sekolah dari kantongku.
                Salah satu dari mereka mengangguk. Berani taruhan, besok pasti tugasnya dikumpulkan. Mereka pasti baru menyelesaikannya sampai jam segini.
                “Semoga hasilnya maksimal dan nilainya juga maksimal.” Aku berusaha menyemangati mereka.
Tak menggubris ucapanku,mereka hanya menoleh lemah, seolah tenaga kehidupannya sudah tersedot habis dari tadi.
Setelah mereka semua keluar pagar sekolah, aku segera mengunci pagar dan bersiap-siap untuk pulang. Pukul 5:51. Entah kenapa, perasaanku selalu tidak enak di sekolah pada jam-jam segini. Ada rasa yang aneh. Setiap sore, aku memang selalu menutup pagar sesegera mungkin sebelum pukul 5:30. Namun, berhubung tadi ada keadaan darurat  ̶  siswa-siswi yang memelas karena harus mengerjakan tugas, aku memustuskan menunggunya.
Kulirik ke belakang. Pagar dalam juda sudah ku kunci. Sekolha yang tampak sangat sepi. Kesepian yang semakin mencekam.
Kulirik jam tanganku. 6:00. Malam. Cukup gelap. Baiklah, setelah ini aku langsung ke rumah. Nonton tv, makan, tidur, dan heii..., itu kan.....
***
 Seorang murid perempuan muncul di belakang pagar. Aneh, aku tidak tahu bagaimana dia masuk. Aku sangat yakin, kuingat-ingat, tadi sudah tidak ada orang di sekolah setelah anak-anak tadi. Kulirik jam tangan ku. 6:01. Aneh. Kok bisa ada perempuan di situ.
Kuputuskan untuk membuka kunci pagar dalam dan menegurnya.
Namun....
Apa itu....
Dia....
HAH?!
“Woi, bengong lo?”
Jeda sejenak
“Woi, bangun. Kerasukan lo? Bengong mulu!”
Aku terperanjat. Teman penjaga sekolah yang ada di depanku menatapku bingung. Perlu dua detik bagiku untuk menyadari bahwa aku tadi bermimpi. Kuruap wajahku, menarik nafas menenangkan diri.
“Lu gapapa?”
“Oh, iya. Gapapa kok, cuy.”gugup, aku menjawab. Temanku itu tampak sedikit khawatir. Mungkin cukup lama dia berusaha untuk membangunkanku. Lalu dia mengucapkan salam perpisahan dan meninggalkan sekolah.
Kulirik jam tanganku lagi. 6:01 pagi, bukan pukul 6:01 malam. Kulihat sekitar halaman sekolah. Mengingat mimpi yang sama, yang sudah satu bulam ini terus mendatangiku. Selalu Berulang-ulang. Terus-menerus seperti menjelajahi galaxi, perempuan yang sama, waktu yang sama, tempat yang sama, dan... Sial! Ya, tuhan, itu kan.....
***
PUKUL 12:01 siang. Sekolah. Kantin
“Kamu kenapa, Ris? Kok pucat?”
Kuruapkan wajahku. Lalu, kutoleh Ali, teman OB di sekolah. “Gak, kok. Enggak papa. Kecapean kali aku.”
“Gara-gara kemaren, nungguin bocah?”
“Mungkin.” Ingin kuceritakan tentang mimpiku selama ini kepada Ali.
“Ris, nanti kamu jaga sekolah, ya! Honornya nambah deh!” Kata wakil kepala sekolah yang tiba-tiba datang dibelakangku.
“Hehe, Iya pak, santai aja....”
“Ya udah, saya pergi dulu ya” Pak wakil kepala sekolah meninggalkan kami berdua.
“Kerja tabahan neh.”
“Iya. Lumayan lah buat nambah-nambah. Duluan ya li!” Aku jalan menjauhi kantin tanpa tahu apa yang salah selama ini.
***
PUKUL 05.31.Sore.
Aku mulai menyesal kenapa aku mengiyakan untuk menjaga sekolah, kenapa? Karena aku sendiri, mending kalau bareng si Ali, atau sama yang lainnya.
Kulirik ke lingkungan sekolah. Tentu saja sangat sepi. Hanya terdengar suara kendaraan dari luar. Sangat membosankan.
Kuuapkan embusan napas dengan menguap lebar. Kantuk membuat pikiranku tak lancar. Ditambah suasana sepi. Andaikan disini ada Ali, waktu pasti akan berjalan dengan seru.
Tuk.....
Hah? Suara apaan tuh?
Kubuka mataku lebar-lebar. Suara ketukan besi. Kontras dengan sepi yang mencekik. Suara dari mana tuh?
Tuk...tuk...
Kudengarkan baik-baik
Tuk...tuk....tuk...
Suara itu makin keras terdengar. Aku pun penasaran. Kulangkahkan kakiku menyusuri lorong. Apakah hanya perasaanku saja atau bagaimana ini?
Tuk...tuk....
Tuk..tuk...
Aku sampai pada pagar dalam sekolah. Jantungku berdetak dengan cepat. Dejavu! Aku membatin pelan. Pagar.... posisi itu.... Seperti dalam mimpiku. Hanya saja tidak ada sosok itu lagi disana. Aku sangat bersyukur karena tidak bertemu lagi dengannya. Namun rasa penasaranku membuatku ingin memeriksanya sekeliling.
Pelan...
Pelan...
Pe.....
TRILIIIIIIIIIT!!!
Aku terperanjat. Kurogoh handphone di celanaku yang berbunyi, mengagetkanku.
“Ris, cepetan pulang!”
“Halo? Siapa ini? Ali?”
“Iya, Ali. Atap rumahlu bocor, Ris.”
“Hah? Kenapa? Halo?”
“ATAP RUMAH LO BOCOR!”
“ Ya ampun!! Beneran??”
“iya. Kamu nggak pulang sih dari tadi. Makanya ga ketahusn. Udah, cepet pulang!”
“Gua kan jaga sekolah!”
“Dah bilang aja ke wakepsek, izin atap bocor! Susah amat!”
Tergesa, aku pun segera menelepon wakepsep dan dia bilang tidak apa-apa. Segera meninggalkan sekolah. Kulirik jam tanganku. Pukul 06:00 malam. Tepat
Lalu kudengar suara detik jam.
Pukul 06:01.
***
Pukul 04:01. Ketika semua murid telah pulang.
Ya, perasaanku sangat sedih. Air menggenang dikarenakan hujan kemarin yang deras mengguyur. Masalahnya, bakal tidur dimana aku malam ini?
Ali jauh lebih beruntung. Rumahnya juga terendam air, tapi dia punya saudara di kota ini. Untuk sementara, dia bisa tidur disana.
“Kamu kenapa, Ris?” Pak wakil kepala sekolah bertanya kepadaku.
“Saya malam ini bakal nginap disini deh. Atap rumah saya bocor, pak.”
Pak wakil kepala sekolah tampak menimbang-nimbang. “Kamu yakin?” Ia bertanya.
Aku mengangguk mantap.
***
                PUKUL 05:55. Saatnya menutup pagar. Sudah pasti sekolah sepi. Kukunci pagar dalam dan pagar luar. Kulirik jam tanganku. Pukul 06.01
                Tiba-tiba semua lampu mati. Sial!! Kok, malah mati listrik? Sialaaaan. Nggak banget nih listrik. Lingkungan sekitar juga menjadi sangat gelap.
                Ku gunakan cahaya dari hp untuk menuntutku berjalan. Hei tunggu dulu. Apa itu? Cahaya hpku ku hentikan di pagar dalam. Kok, bisa ada seseorang di situ? Perempuan? Malam-malam begini?
                “Eh. Kok kamu belum pulang?” Aku berusaha berucap sopan. Heran juga sih. Seingatku, pagar kan, sudah kukunci. Kenapa bisa dia masuk?
                Perempuan itu hanya menatapku sayu. Pasti dia akan pulang, karena untuk apa dia disini.
                Tetapi.... loh, kok?
                “Ngapain ..... kamu belum..... ?” Belum sempat aku selesaikan kalimatku, perempuan itu justru melewatiku.
                “Neng, ini....” Aku mengikutinya dari belakang, namun ntah kenapa dia seperti hilang dalam gelap.
                Tiba-tiba suara seperti pintu tertutup kencang terdengar. Sontak aku kaget berlari. Handphoneku terjatuh.
                Setelah kudapatkan hpku, aku melihat sesuatu.
                Di depanku....
                Seseorang...
                Seorang...perempuan
                Aku menelan ludah
                Dia..... tersenyum
                Mendadak jantungku berdegup kencang seperti berlari marathon 25 km.
                Sampai kemudian ku sadari.... dia tidak mempunyai bola mata.
***
                Tentang SMP 6:01 itu ada dimana??
                Nggak ada yang tahu, sih, nama sebenarnya dari SMP itu, walaupun dengan lokasi aslinya.
                Hah? Beneran?
                Ho-oh
                Jadi...?
                Yah, hati-hati saja kalau kita sedang kerja kelompok di sekolah. Jangan sampai malam. Apalagi kalau ngobrol ga jelas. Kan kita nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita tetap disana sampai pukul 06:01.Eng... kalau gitu, bukannya kita harus cabut, ya?
                Maksudmu?

                Sudah pukul 6:00
***
(Terinspirasi dari cerita "12:31" karya Ahmad Azeri Chandra Bhuana)

Selasa, 17 Februari 2015

Bumi Semakin Panas

            PEMANASAN GLOBAL itu urusan semua makhluk bumi, bukan hanya cerita yang datang dari negeri jauh soal asap pabrik-pabrik besar, es mencair, beruang kutub yang nyaris kehilangan habitat, atau lahan pertanian yang mengering di Afrika. Makanan, pilihan kendaraan, rumah, hingga sampah yang kita buang, ikut berperan besar dalam perubahan iklim di bumi. Kita berperan besar dalam memanaskan Bumi, tetapi kita jjuga bisa menjadi bagian dari solusinya.
            Jika pemanasan global terus “ditidakpedulikan”, banyak daratan akan terendam air (atau tenggelam). Sebagiannya adalah pulau-pulau negeri tercinta kita ini, barangkali juga termasuk pulau yang kita tinggali saat ini. Katanya, seluruh es kutub akan mencair dalam 30 tahun mendatang; tentu saja itu tak hanya memusnahkan beruang kutub dan makhluk kutub lainnya, namun juga akan menaikkan permukaan laut.
            Terhadap ancaman itu, banyak orang masih berpikir: “Toh terjadinya masih lama ini.” Tetapi, dampak pemanasan global sebenarnya telah datang mengunjungi rumah kita. Tandanya sudah kita rasakan, misalnya musim yang tidak karuan, termasuk musim kemarau atau musim hujan yang terlalu panjang. Banjir di satu tempat, kekeringan di tempat lain pada saat sama. Badai dan bencana lan terkait dengan iklim, makin kerap terjadi.
            Menurut catatan Bakornas PB, kejadian-kejadian bencana terkait iklim sejak tahun 1950-1960-an telah meningkat 4 kali lipat. Misalnya tahun 2003-2005 saja, telah terjadi sekitar 1420 bencana di Indonesia. Sekitar 53,3 persen di antaranya berkaitan dengan iklim dan hidrologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan angin topan.
            Kekacauan iklim dan cuaca juga telah berdampak pada penurunan kemampuan petani untuk menyediakan pangan. Ancaman gagal panen makin meningkat. Bahaya kelaparan pun mengintai. Perubahan iklim melanda selurh penjuru bumi, tapi negara-negara miskin;ah yang akan merasakan dampak terburuk.
            Pada 2020, diperkirakan 75 hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, sedangkan penduduk kota-kota besar di Asia beresiko dilanda banjir. Bagaimana dengan Eropa dan Amerika? Di Eropa, sebagian besar spesies akan punah karena perubahan iklim. Sementara di Amerika Utara, gelombang hawa panas terjadi makin lama dan menyengat sehingga akan memicu perebutan sumber air. Kondisi cuaca ekstrim akan menjadi hal yang lumrah.

            Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin destruktif. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tanah, dan menggerus kawasan pesisir.
            Di Indonesia, kenaikan muka air laut telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, mengubah arus laut, memperluas kerusakan hutan bakau, meluasnya intrusi aor laut ke daratan, dan berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya banjir disebabkan karena pola hujan yang membingungkan, musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi. Iklim menjadi ekstrem dan sulit diperkirakan lagi.
            Daerah yang paling terkena dampak pemanasan global adalah pesisir. Luas hutan bakau terus menurun dari 5.209.543 ha (pada 1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha pada 1993. Apabila keberadaan bakau tidak dapat dipertahankan lagi, maka abrasi pantai akan semakin kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat, karena tidak adanya filter polutan dan zona budidaya ikan pun terancam. Wilayah kedaulatan negara kita pun berkurang akibat mundurnya garis pantai.
            Semua kejadian ini memperjelas bahwa ancaman dampak pemanasan global bukan lagi sesuatu yang jauh, tetapi sudah sangat dekta dengan rumah kita.

            Untuk penyeimbang semua hal diatas, kita ada baiknya ikutan turun tangan dalam urusan penghijauan. Mau ikut “dinginkan” suhu panas bumi, bersama menahan lajunya global warming? Sebaiknya kita ikut warming up dan berbenah kepribadian agar lebih hirau terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, negara dan bangsa kita, demi masa depan Bumi ini dan kita. J

 
biz.